Posted by: larengawi on: November 21, 2009
eitss tunggu dulu…ni bukan tentang cewek yang sedang mempermainkan cowoknya…ni tentang suatu hal yang lucu dan menarik terutama untuk anak-anak…dan merupakan hal yang hemat untuk ibu-ibu rumah tangga yang sedang di pusingkan dengan mainan-mainan yang terlampau mahal aq sempatkan mengupload hal ini karena mungkin bisa menjadi alternatif baru buat kamu-kamu..seminggu yang lalu kami disibukkan dengan persiapan lomba membuat kreatifitas alat peraga yang educatif..dan kemarin tepat kamis tanggal 19 november bertempat di tk nawa kartika kami bertempur memperjuangkan betapa hemat dan menariknya ape yang kita buat.. sempat pesimis juga ketika melihat teman-teman dari TK lain…tapi harus tetep semangat dong..hehehe…deg2an itu hadir ketika giliran kami yang di panggil untuk presentasi alhm berlalu dengan baik sepertinya hanya Tk kami yang siap dalam perlombaan ini..kami optimis sekali…dan ternyata benar..kami menjadi juara pertama…dengan APE yang bertemakan “keranjang multifungsi” alhamdulillah…kamipun sempat menyertakan gambarnya disini juga milik teman2 dari TK lain..
Posted by: larengawi on: November 14, 2009
* kebahagiaan yang tertunda yang dibayar dengan pengorbanan selalu terasa lebih manis*
* makin besar kesulitan….
makin besar kemuliaan dari keberhasilan mengatasinya*
* buatlah dirimu menjadi berkah bagi seseorang…
senyum yang tulus dan tepukan di bahu mungkin bisa menarik seseorang dari tepi jurang*
* genggamlah tangan temanmu selama masa-masa sulit.
biarkan menemukan cinta melalui pelukan dan senyuman,
tapi juga tahu untuk merelakan…
karena kita juga harus belajar untuk tumbuh*
Posted by aku ada untuk mu…

kebahagiaan yang tertunda
Posted by: larengawi on: November 14, 2009
ORANGTUA kadang dibuat berang dengan perilaku si kecil yang sulit diatur atau maunya ngemil permen setiap hari. Jangan selalu memarahi, cobalah pahami karakter otak anak yang “beda”.
Adakah anak kecil yang tak suka permen? Konon, otak anak memang telah “terprogram” untuk terobsesi terhadap manisnya permen atau gula-gula. Namun, karakter sulit menghindar atau “menahan keinginan” ini pada satu sisi justru menjadikan anak-anak sebagai makhluk penemu dan pembelajar handal.
Sharon Thompson-Schill, seorang profesor bidang psikologi dari Universitas Pennsylvania, selama 15 tahun meneliti karakter orang dewasa yang punya masalah dalam hal mengingat sesuatu karena kerusakan pada lobus frontal (bagian depan belahan otak besar). Sepanjang masa itu, sang profesor yang juga ahli saraf ini mendapati bahwa apa yang terjadi pada anak kecil (misalnya dalam kaitannya dengan permen tadi) mirip dengan kasus kerusakan lobus depan pada orang dewasa tersebut.
“Belajar dan berprilaku tanpa lobus depan otak ini akan berbeda hasilnya dengan aktivitas belajar dan berprilaku dengan lobus depan otak,” katanya. Efeknya, lanjut dia, pada anak-anak misalnya akan cenderung impulsif, menentang aturan, dan tidak patuh pada perintah.
Penelitian terdahulu perihal perkembangan otak anak menunjukkan bahwa anak-anak bukanlah “manusia dewasa mini” dan bahwa korteks prefrontal (bagian otak yang berperan dalam kemampuan menilai dan mengambil keputusan), baru akan mencapai tingkat kematangan saat seseorang mencapai usia remaja atau dewasa muda (sekitar usia 21).
Dalam paper yang diterbitkan Current Directions in Psychological Science, Thompson-Schill menyebut penundaan kematangan lobus frontal otak ini sebagai “pikiran tanpa kendali”. Pikiran tanpa kendali ini, menurut dia, merupakan hal yang baik untuk anak, kendati kadang membuat orangtua berang atau jengkel.
Menghargai bakat yang tersimpan dalam otak si kecil juga banyak digaungkan, termasuk dalam buku terbaru Alison Gopnik, The Philosophical Baby: What Children’s Minds Tell Us About Truth, Love, and the Meaning of Life (Farrar, Straus and Giroux). Gopnik yang merupakan peneliti dari Universitas Washington, menunjukkan bagaimana anak usia prasekolah menggunakan “kecanggihan” otaknya untuk berpikir dan mencermati cara kerja dunia bekerja. Mereka terbukti mampu melakukannya biarpun tanpa panduan guru ataupun media pembelajaran seperti video edukasi dan flashcard.
Anak dengan otaknya yang “beda” dari orang dewasa, juga menjadikan mereka memiliki bakat unik dalam mencipta atau menemukan sesuatu. “Orang dewasa biasanya malah penemu yang buruk,” tukasThompson-Schill.
Dibandingkan anak-anak, orang dewasa biasanya terlalu banyak pertimbangan dalam mencari dan berpikir untuk menemukan sesuatu dan menyaring sisanya. Sebaliknya anak-anak dengan pikirannya yang masih lugu cenderung tidak pernah menyaring apa yang terjadi dalam dunianya seperti yang dilakukan orang dewasa. Mereka bisa menaruh perhatian dan penasaran pada hal apa pun.
Belajar dari pengalaman mengasuh ketiga anaknya saat mereka masih kanak-kanak,Thompson- Schill lebih banyak mengaitkan perilaku anaknya dengan kematangan otak dan bukannya soal ketidakpatuhan atau penentangan dari sang anak. Ia pun menggunakan beberapa trik pendisiplinan anak seperti halnya yang dilakukan terhadap pasien dewasa yang mengalami gangguan lobus frontal tadi.
Ia mengingatkan bahwasanya perilaku anak dipengaruhi lingkungan sekitarnya, bukan semata ditentukan pikiran di benaknya atau nasihat sopan santun yang diajarkan orangtuanya. Jadi, ia berpesan, jika tidak ingin anak Anda terus mengemil permen, jangan biasakan menyimpan permen atau gula-gula di rumah.
Profesor jenius ini juga mengungkapkan trik lainnya. Misalnya, jika ingin anak Anda menjadi pemain sepak bola andal, jangan mengajarkan anak berdasarkan apa yang Anda pelajari. Anak akan lebih banyak belajar jika mereka mencoba mempraktikkannya sendiri dan menilai apa yang telah dilakukannya itu (apakah sudah benar atau belum?). Selanjutnya sebagai pertimbangan dan masukan, barulah orangtua memberi saran semisal teori tentang bermain sepak bola yang baik. (Koran SI/Koran SI/ftr)
Posted by: larengawi on: September 5, 2009
tepat di tanggal 4 tahun 82 an alhamdullillah telah lahir seorang isma. well bukan sesuatu yang menarik sihhh….kemarin menjadi hari yang istimewa coz masih bisa berada di tengah2 keluarga, teman, murid2, di usia yang sudah tidak terlalu muda alhamdulillahhh…thanks god. satu ucapan selamat dari teman guru. yang lain… mungkin terlalu sibuk dengan urusan masing2 but its ok. mungkin cuman segelintir cerita spesial itu yang ada di samping cerita apesnya td pagi aqyu kehilangan pegangan tanganku yaitu hp eisia dan duit 100ribu + ktp tidak ketinggalan pula dompet seharga 20rb ikhlas adalah jalan terakhir untuk mengobati luka hati karena ditinggal pegangan tadi semoga yang menemukan benar2 sedang membutuhkan uang itu amiennn…i’lan hati2 dengan barang2 anda jangan sembrono dengan meletakkan di mana saja
Posted by: larengawi on: Juli 4, 2009
Posted by: larengawi on: Mei 26, 2009
Bertuturlah cinta mengucap satu nama
Seindah goresan sabda-Mu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih mengutus hati ini
Ku sandarkan hidup dan matiku pada-Mu
[*]
Bisikkan doaku dalam butiran tasbih
Ku panjatkan pintaku pada mu Maha Cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik rasa
Tak bisa ku paksa walau hatiku menjerit
[**]
Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
Back to [*][**]
Cinta…
Back to [**]
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
Ketika cinta bertasbih
ini adalah original soundtrack dari film ketika cinta bertasbih
semoga lirik ini dapat memberi gambaran yang berarti… bahwa tidak setiap keinginan dapat terwujud pabila garis hidup telah di tentukan oleh_NYA
Posted by: larengawi on: Mei 23, 2009
Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama
Zun-Nun.
Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti
mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat
sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat
perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan
lain.”
Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu
jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi
lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah
ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping
emas?”
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keping
emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.” “Cobalah
dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada
pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang
lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas.
Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani
menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan
Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari
satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu
ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko
atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana
ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada
Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru,
ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari
cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.
Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar
oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas
pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari
pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar”
yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.
Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat
dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan
kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku.
Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita
dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata
loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Posted by: larengawi on: April 24, 2009
suwun teruntuk bapak,ibu,mbak,adek2 sudah sangat sabar menghadapi sikap q yang terkadang membuat kalian sprt kata orang jawa “ngelus dodo”
Posted by: larengawi on: April 9, 2009
Bermain…anak-anak…ceria…adalah duniaku saat ini…
Selamat datang di dunia kecilku…
Komentar Terakhir